Survei Penetrasi dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2025 yang dirilis oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap potret menarik sekaligus mengkhawatirkan tentang lanskap digital Tanah Air. Meskipun penetrasi internet mencapai angka yang mengesankan, yaitu 80,66% (sekitar 229,4 juta jiwa), kenyataannya masih ada kesenjangan digital yang signifikan.
Kesenjangan Akses dan Dominasi Generasi Muda

Ketua Umum APJII, Muhammad Arif, mengungkapkan bahwa daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) hanya berkontribusi 1,91% terhadap total pengguna internet nasional. Ini menjadi sorotan penting, bahwa pembangunan infrastruktur digital tak boleh hanya terpusat di kota-kota besar.
Di sisi lain, survei ini juga mengkonfirmasi dominasi generasi muda dalam dunia digital Indonesia. Generasi Z memimpin dengan 25,17% pengguna internet, diikuti milenial dengan 23,19%. Meskipun ini menunjukkan potensi bonus demografi yang besar, APJII mengingatkan potensi negatifnya. Sekretaris Umum APJII, Zulfadly Syam, mengungkapkan kekhawatiran akan kemungkinan masyarakat Indonesia hanya menjadi konsumen pasif di dunia digital, bukan produsen aktif. Data menunjukkan 76,7% responden belum memanfaatkan internet untuk kegiatan bisnis atau ekonomi produktif.
Infrastruktur dan Tantangan Keamanan Siber
Dari sisi infrastruktur, penggunaan perangkat mobile masih mendominasi (83,39%), dengan koneksi utama melalui data seluler (74,27%). Namun, terdapat peningkatan penggunaan fixed broadband, dari 27,4% pada 2024 menjadi 38,7% pada 2025.
Sayangnya, kemajuan infrastruktur ini tidak diimbangi dengan peningkatan literasi dan keamanan digital. Penipuan online menjadi ancaman terbesar yang dialami pengguna (24,89%), diikuti pencurian data pribadi dan phishing. Data yang mengkhawatirkan lainnya adalah 41,26% responden yang mengaku tidak pernah mengganti kata sandi, dan 31,1% yang merasa tidak perlu melakukannya.
Ekosistem Industri dan Kebutuhan Kebijakan Afirmatif
APJII mencatat lebih dari 1.300 penyelenggara jasa internet (ISP) di Indonesia, dengan 52% di antaranya merupakan usaha mikro. Sebagian besar melayani segmen rumah tangga (35,83%), namun menghadapi persaingan yang ketat. APJII mendorong moratorium untuk penyehatan industri.
Zulfadly Syam menekankan pentingnya kebijakan afirmatif untuk mendorong investasi di daerah 3T. Tanpa insentif, relaksasi pajak, atau proteksi regulasi, investasi akan terus terkonsentrasi di wilayah yang mudah dijangkau. Sementara itu, kesenjangan gender dalam akses internet semakin tipis, dengan penetrasi pada laki-laki dan perempuan sama-sama di atas 75%.
Tabel Ringkasan Survei APJII 2025
| Aspek | Data |
|---|---|
| Penetrasi Internet | 80,66% (229,4 juta jiwa) |
| Kontribusi Daerah 3T | 1,91% |
| Generasi Z | 25,17% pengguna internet |
| Milenial | 23,19% pengguna internet |
| Penggunaan Perangkat | Mobile (83,39%), Data Seluler (74,27%) |
| Fixed Broadband | 38,7% (2025) |
| Ancaman Siber Terbesar | Penipuan Online (24,89%) |
| Pengguna yang Tak Ganti Sandi | 41,26% |
| Jumlah ISP | Lebih dari 1.300 |
| ISP Usaha Mikro | 52% |
Survei APJII 2025 ini menjadi peta jalan penting bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem digital Indonesia yang inklusif, aman, dan berkelanjutan. Kolaborasi dan inovasi menjadi kunci utama dalam mengatasi tantangan yang ada.





